Gejolak Perjalanan Brexit

Keluarnya Inggris dari Uni Eropa (UE), biasa disingkat Brexit (British Exit) adalah kemungkinan (proses dan rencana) penarikan diri Inggris dari Uni Eropa sebagai hasil dari referendum Brexit yang diadakan pada Kamis 23 Juni 2016, referendum Brexit ini diadakan untuk memutuskan apakah Inggris harus meninggalkan keanggotaannya atau tetap tergabung dalam Uni Eropa Referendum ini diikuti oleh 30 juta pemilih, yang berarti partisipasi total didalamnya mencapai 71,8% dari penduduk yang memiliki hak pilih di Inggris, hasilnya sendiri adalah 51,9% memilih untuk keluar dari Uni Eropa dan 48,1% memilih untuk tetap tergabung dengan Uni Eropa.

Sekilas Profil Uni Eropa (UE)
Uni Eropa (European Union) adalah organisasi yang terdiri dari negara-negara Eropa dengan tujuan bekerja sama di bidang ekonomi dan politik di benua Eropa.

Per tanggal 1 Juli 2013 UE telah memiliki 28 negara anggota yang bergabung dengannya. UE didirikan di bawah Perjanjian Uni Eropa yang dikenal dengan Perjanjian Maastricht pada tahun 1992. Selain Inggris, beberapa negara besar di Eropa juga tergabung seperti Perancis, Italia, Swedia, Jerman, dan negara lainnya.

UE bekerja dengan mekanisme pasar tunggal yang menyatukan berbagai kebijakan ekonomi dan politik. Negara yang tergabung pada UE juga memiliki mata uang yang sama, yaitu Euro, terkecuali Inggris dengan Pound Sterlingnya (GBP).

Sebenarnya banyak hal positif yang diperoleh anggotanya dari terbentuknya UE ini. Cukup disayangkan jika Inggris hendak berpisah darinya.

Beberapa keuntungan kerja sama tersebut meliputi kemudahan transaksi ekspor impor di area UE, akses wilayah udara area UE, dan lain sebagainya.

Alasan Ingin keluar dari UE

Rupanya dibalik berbagai keuntungan kerja sama diantara anggota UE, Inggris merasa banyak ketidakcocokkan dengannya.

Inggris berniat ingin lebih mandiri dalam mengatur negaranya sendiri dan berdaulat penuh. Kedua, Inggris merasa terganggu dengan aturan yang ditetapkan di Brussels, markas UE, di mana mereka meyakini hal itu mencegah bisnis beroperasi secara efisien.

Selain itu, isu migran menjadi alasan ketiga sekaligus utama yang memicu perdebatan Brexit. Masalah ini bertentangan dengan kebijakan UE yang membebaskan anggotanya bekerja dan hidup di negara manapun di area UE.

Bagi Inggris adanya migran menyebabkan berbagai masalah seperti pengangguran, sistem Pendidikan , kemacetan lalu lintas, kesehatan, dan masalah lainnya.

Mengulas dari sejarahnya, Inggris sendiri mulai bergabung dalam Komunitas Eropa (Uni Eropa) pada tahun 1973, meski begitu terdapat dorongan untuk melakukan referendum dari banyak pihak yang tidak setuju apabila Inggris bergabung dalam UE, sehingga pada tahun 1975 diadakan referendum 1975, tetapi hasil dari referendum tersebut justru memenangkan pihak yang setuju untuk bergabung sehingga semakin melegitimasi kebijakan Inggris untuk tetap tergabung dalam UE. Di era 1970-an dan 1980-an, wacana untuk mengundurkan diri dari UE utamanya banyak digalang oleh anggota dan tokoh-tokoh dari Partai Buruh dan Serikat Buruh. Mulai era 1990-an, pendukung kuat dari wacana ini adalah Partai Kemerdekaan Britania Raya (UKIP) dan anggota-anggota dari Partai Konservatif yang memiliki pandangan “Eurosceptic”.

Hal ini lah yang menyebabkan pergerakan Poundsterling versus Dollar AS sangat volatile. Dalam beberapa bulan terakhir, Poundsterling memang menunjukkan pergerakan Highs dan Lows secara ekstrim terhadap Dolar AS, terutama jika mendekati deadline Brexit. Mata uang Inggris tersebut reli menuju $1.32 pada bulan Mei, tetapi kemudian tumbang ke bawah $1.20 di akhir Agustus lalu.
Volatilitas Sterling bahkan sudah melampaui Lira Turki saat memasuki awal tahun 2019 lalu. Meski demikian, pada awal bulan ini, volatilitas Pound sudah lebih tenang begitu parlemen Inggris akan diliburkan sampai dengan pertengahan Oktober nanti.
Dalam perjalanan Brexit ini dikenal dengan istilah “hard Brexit” dan “soft Brexit” akan kit ulas dampak terhadap Inggris jika hard maupun soft Brexit tersebut.
Istilah Hard Brexit dan Soft Brexit adalah istilah tidak resmi yang banyak digunakan oleh media massa dalam menggambarkan kemungkinan hasil negosiasi penarikan diri Inggris dari Uni Eropa. Istilah ini sendiri tidak memiliki arti yang tegas dalam menggambarkan Brexit, dan dapat pula memiliki arti yang berbeda-beda bagi tiap orang, tetapi pada umumnya istilah ini merujuk pada kedekatan hubungan Inggris dengan Uni Eropa setelah Brexit nantinya.

Hard (keras) Brexit, merupakan istilah yang menggambarkan kegagalan negosiasi dan tidak adanya kesepakatan antara Inggris dan Uni Eropa ketika Inggris resmi keluar nantinya, hal ini dapat menjadikan pola perdagangan Inggris dengan Uni Eropa seperti layaknya negara yang bukan anggota Uni Eropa lainnya yang mana hanya berlindung dibawah aturan Organisasi Perdagangan Dunia, tetapi juga dengan tanpa mewajibkan Inggris untuk menerima pendatang dari Uni Eropa secara bebas seperti yang terjadi saat ini.
Sedangkan Soft (lunak) Brexit, berarti meskipun Inggris keluar dari Uni Eropa, tetap Inggris masih diberi kesempatan untuk tetap mempertahankan keanggotaannya dalam pasar tunggal Uni Eropa untuk penyediaan barang dan jasa layanan, dan dengan setidaknya beberapa kelonggaran kebebasan bergerak orang-orang (pendatang), sesuai dengan aturan Area Ekonomi Eropa.

Pandangan ketua Bank Central Inggris (BoE) Mark Carney mengenai Brexit : “Volatilitas Sterling, jika Anda memang ingin mengetahuinya, sedang berada dalam level-level emerging markets dan sudah terasing dari mata uang-mata uang negara maju dengan alasan yang sudah jelas,” jawab Carney.
“Beragam indikator-indikator lain menunjukkan bahwa pasar finansial sedang bergerak secara substansial dalam satu arah ke arah lainnya, dengan bergantung pada bagaimana perkembangan Brexit,” tambahnya.
Mengakhiri pernyataannya, Carney menegaskan bahwa perlambatan ekonomi sekarang ini sudah tak bisa dihindari lagi. Ia juga mengatakan bahwa tingkat suku bunga negatif bukanlah tools yang cocok bagi Inggris saat ini. Namun demikian, masih ada solusi untuk menghadapinya, yakni dengan mengatur kebijakan fiskal.
Pengaruh Terhadap GBP.

Gubernur Bank of England (BoE), Mark Carney menyatakan bahwa perekonomian Inggris diperkirakan akan lesu selama kesepakatan Inggris untuk keluar dari Uni Eropa atau Brexit belum mencapai titik terang.
Terlebih lagi jika hard-Brexit benar-benar terjadi, maka posisi GBP semakin tergoyahkan.
Hard Brexit berarti Brexit tetap dipaksakan berjalan meskipun belum tercapai persetujuan. Banyak analis memprediksi jika hal ini terjadi dapat menggerus GBP hingga 25%.

Kondisi hard Brexit sangat ditakuti pelaku pasar terhadap ekonomi Inggris dan UE. Ketakutan tersebut juga kembali ditegaskan Menteri Perdagangan Inggris Liam Fox. Ia menyebut bahwa probabilitas Inggris keluar dari Uni Eropa tanpa kesepakatan telah mencapai 60%.
Ketidakpastian yang tinggi terhadap masa depan Inggris membuat mata uang pound sterling merosot tajam dalam beberapa waktu terakhir.

Intinya…
Ketidakpastian Brexit mengintai harga GBP dan perekonomian dunia. Ada 3 opsi yang bisa ditempuh untuk kasus Brexit yaitu hard, referendum kedua, ataupun pembatalan Brexit.

Hard Brexit adalah opsi terpahit bagi GBP. Bahkan analis memperkirakan bisa menyebabkan GBP tergerus 25%.
Meski GBP bisa terbawa pada tren bearish yang berlanjut namun tentunya ada koreksi bahkan pembalikan harga sewaktu-waktu.

Semua ini akan terjawab pada Oktober nanti…